Minggu, 22 April 2012

Dana Bailout Rp 126.000 Triliun Belum Bisa Atasi Krisis Ekonomi Global

Jumlah uang yang digelontorkan untuk menyelamatkan ekonomi dunia sejak
Resesi Besar benar-benar mengejutkan, mencapai lebih dari US$ 14 triliun
(Rp 126.000 triliun). Namun kondisi perekonomian global belum juga membaik.

Negara-negara industri dan berkembang berjanji akan menyuntikkan
tambahan dana sebesar US$ 430 miliar (Rp 3.900 triliun) akhir pekan ini.
Uang itu akan meningkatkan daya pinjaman IMF, jika sampai krisis Eropa
memburuk dan menyeret negara-negara lain.

Tiga minggu lalu, pemimpin Uni Eropa telah menyisihkan US$ 1 triliun (Rp
9,150 triliun) untuk dana bailout Eropa sebagai upaya membentengi
negara-negara lain dari imbas utang zona Eropa. Bank-bank sentral utama
juga belum selesai menyuntikkan uang untuk perekonomian global.

Federal Reserve mengadakan pertemuan pada Selasa dan Rabu lalu,
sementara Bank of Japan rapat pada hari Jumat. Pandangan mereka terhadap
kelonggaran moneter melalui pembelian obligasi akan tetap sama. Bahkan
Jepang bisa lebih meringankan beban bunga untuk melawan tekanan deflasi.

IMF telah merekomendasikan adanya tindakan lebih dari Bank Sentral
Eropa. Sementara Bank Rakyat Cina sudah bertindak dengan memangkas
persyaratan cadangannya tahun ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Tapi, bisakah semua uang ini mengembalikan kekuatan pertumbuhan dalam
waktu dekat?

Pejabat pemerintah dan para ekonom satu pendapat. Masalahnya adalah:
terlalu banyak utang. Dana bailout dan berbagai langkah dari bank
sentral hanya stimulus untuk menjaga ekonomi dunia hingga perbaikan
neraca selesai.

"Solusi nyata harus dilakukan dengan reformasi fiskal dan struktural
untuk mengatasi akar masalah krisis ini. Tidak hanya di Eropa, tetapi
juga di tempat lain," kata Tharman Shanmugaratnam, Menteri Keuangan
Singapura dan kepala komite pengarah IMF, seperti dilansir dari CNBC
(23/4/2012).

Di 2009, IMF menghitung upaya penyelamatan resmi mencapai hampir US$ 12
triliun (Rp 109.000 triliun). Uang sebanyak itu setara dengan output
tahunan ekonomi AS atau sekitar US$ 2.000 (Rp 18 juta) untuk setiap
pria, wanita dan anak di planet ini.

Hampir empat tahun kemudian, ekonomi dunia berkembang pada kecepatan
yang moderat sebesar 3,5 % pertumbuhan GDP tahun ini. IMF memperkirakan,
ini sejalan dengan tingkat rata-rata sebesar 3,4% dari 1994-2009.

Departemen Perdagangan AS akan melaporkan perkiraan awal pertumbuhan
ekonomi kuartal pertama Jumat mendatang. Ekonom yang dijadikan
narasumber oleh Reuters memperkirakan median 2,5% pertumbuhan GDP, turun
dari 3,0% dari periode sebelumnya.

Untuk mempercepat laju pertumbuhan, ada pesan mendesak untuk para
menteri dan gubernur bank sentral yang menghadiri pertemuan tiga hari
IMF/G20 di Washington Sabtu ini: Segera lunasi utang-utang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar